HUT Ke-535 Gresik Berikut Uraian Sejarah Giri Kedaton Menurut Gilang Adiwidya (Gus Gilang) Sosok Spiritual Asli Gresik

GRESIK (Jawa timur), -Situs Giri Kedaton yang berada di Desa Giri Sidomukti Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik propinsi Jawa timur menjadi tonggak sejarah berdirinya Kota Gresik yang tepat pada hari ini 9 Maret telah memasuki hari jadi ke 535.

Sebab Giri Kedaton merupakan Kerajaan pertama di Gresik dan menjadi pusat pemerintahan serta menjadi pusat syiar agama Islam yang didirikan oleh Kanjeng Sunan Giri bin Syekh Maulana Ishaq bin Jumadil Qubro. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Gilang Adiwiyata atau kerap dipanggil Gus Gilang yang merupakan sosok orang Spiritual Gresik.

Menurut Gus Gilang Adiwidya sejarah berdirinya Giri Kedaton berdasarkan kutipan dari cerita Babad ing Gresik, Menyebutkan bahwa awal sunan Giri mendirikan pesantren Giri lalu dijadikan sebagai “Kerajaan Giri” yang dipimpin oleh Raden Paku (nama lain dari Sunan Giri, red) kemudian dinobatkan sebagai “Raja Pendhita” dengan gelar Prabu Satmata.

Bahkan, Pesantren Giri juga dijadikan sebagai “Kerajaan Ulama” atau tempat perkumpulnya para Ulama dari berbagai wilayah hingga manca negara pada zaman dahulu sekitar tahun 1408 Saka atau 1486 Masehi.

Sunan Giri, mempunyai nama asli Muhammad Ainul Yaqin dan mempunyai banyak julukan. Seperti, Joko Samudero, Raden Paku, Sultan Abdul Faqih dan Prabu Satmoto. 

Masih kata Gus Gilang Adiwiyata, Giri Kedaton sesuai cerita dalam Babad Ing Gresik, disebutkan pertama didirikan Sunan Giri dengan nama “Kedaton Tondo Pitu“. Yaitu, bangunan istana bertingkat tujuh diatas sebuah bukit yang kemudian dikenal dengan sebutan atau nama “Giri Kedaton”.

Pembangunan Giri Kedaton, dilakukan Sunan Giri pada tahun 1408 Saka atau 1486 Masehi. Hal itu berdasarkan catatan sejarah Candra Sangkala yang berbunyi “Sumedya Resik Ker Wulu”. Dan dicatatan itu juga disebutkan, bahwa Raden Paku bergelar Sunan Giri atau Rajah Bukit.

Setahun berikutnya Sunan Giri, diangkat menjadi Nata (Kepala Pemerintahan, red) dengan gelar Prabu Satmata. Serta didaulat sebagai Pandita (Pemimpin Umat Islam) dengan gelar Tetanggul Khalifatul Mukminin. 

Hal tersebut tertulis dalam Masa  Candra Sangkala yang berbunyi Trusing Luhur Dadi Hajiyang menunjukkan angka tahun 1409 Saka, 1487 Masehi atau yang bertepatan dengan Hari/Tanggal, Jum’at Pon, 9 Maret 1487 M atau12 Rabbi’ul Awal 894 Hijriah jika dikalenderkan saat ini,” ungkap Gus Gilang bercerita, Rabu (9/3)

Sesuai serat atau catatan sejarah Kasultanan Giri Kedaton, Sunan Giri menjadi Raja selama 19 tahun. Yakni antara tahun 1487 – 1506 Masehi. Setelah itu, kepemimpan Kasultanan Giri Kedaton beralih ke Sunan Dalem yang berkuasa selama 40 tahun antara tahun 1505 – 1545 Masehi.

Usai dipimpin Sunan Dalem, Kerajaan atau Kasultanan Giri Kedaton lalu dipimpin oleh Sedoing Margi selama 3 tahun tepatnya tahun 1545 – 1548 Masehi. Dan setelah Sedoing Margi, Kasultanan Giri Kedaton dipimpin oleh Sunan Prapen sebagai Raja selama 57 tahun sejak tahun 1548 – 1605 Masehi.

Punya nama Anumerta Sunan Prapen atau Sunan Mas Ratu Fatikhal atau Syekh maulana Fatikhal. Meski menjadi Raja digenerasi ke empat Kasultanan Giri Kedaton namu ia adalah Raja Giri yang paling besar setelah Sunan Giri.

Setelah bertahta selama 57 tahun, posisi Sunan Prapen kemudian diteruskan oleh Kawis Guwo yang menjadi Raja kelima Kasultanan Giri Kedaton selama 15 tahun. Yakni, tahun 1605 – 1616 Masehi. Lalu, Panembahan Agung Giri menjadi Raja Kasultanan Giri Kedaton selama 20 tahun tepatnya di tahun 1616 – 1636 Masehi. 

Sepeninggal Panembahan Agung Giri, Kasultanan Giri Kedaton dipimpin oleh Panembahan Mas Witono atau Sideng Rena yang menjadi Raja selama 24 tahun tepatnya pada tahun 1636 – 1660 Masehi.

Dalam riwayat sejarahnya, setiap pergantian Raja di Kerajaan Giri Kedaton mulai periode kepemimpinan Sunan Giri hingga Panembahan Mas Witono (Sideng Rena) atau sejak generasi pertama hingga ketujuh. Peralihan kekuasaan atau Raja tidak perna ada pertumpahan darah atau perebutan kekuasaan.

Pasca generasi ketujuh atau sejak ditinggal Panembahan Mas Witono (Sideng Rena), pemerintahan Kerajaan Giri Kedaton mengalami kemunduran. Terutama setelah mendapat serangan dari Amangkurat I dan II yang berasal dari Kerajaan Mataram di Jawa tengah yang saat menyerang Kerajaan Giri Kedaton berkoalisi dengan VOC.

Akhirnya lanjut Gus Gilang, Kerajaan Giri Kedaton benar-benar runtuh, pada bulan April tahun 1680 Masehi. Setelah itu, Giri Kedaton diperintah oleh orang-orang yang bukan berasal dari dinasti atau keturunan dari Sunan Giri. Apalagi orang-orang yang menjadi pemimpin kala itu atas perintah Kerajaan Mataram.

Diantaranya, Pangeran Puspa Ita yang berkuasa di Giri Kedaton antara tahun 1660–1680 Masehi. Dilanjut kemudian

Pangeran Wirayadi tahun 1680 -1703 Masehi, Pangeran Singonagoro tahun 1703 M – 1725 Masehi dan Pangeran Singosari tahun 1725 – 1743 Masehi.

Selain itu, sejarah yang tertulis di kitab kitab kuno bahwa Giri Kedaton adalah tempat do’a yang paling dihijabah atau mustajab setelah tanah suci Makkah Al Mukaroma Arab Saudi.

Hal itu bukan tanpa alasan, sebab berdasarkan riwayat bahwa kandungan atau jenis tanah yang ada di Giri Kedaton persis sama dengan tanah di Makkah makanya lokasi itu dipilih oleh Sunan Giri sebagai pusat kerajaan atau pemerintahan dan juga menjadi syiar agama Islam,”terang Gus Gilang Adiwidya.

Gus Gilang Adiwdya Masih memaparkan “Berikut sejarah yg disampaikan situs Giri kedaton ketika itu berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan penyebaran agama Islam di abad ke 15 Pendiri Giri kedaton adalah Kanjeng Sunan Giri bin Syekh Maulana Ishaq bin Jumadil Qubro.

Dimasjid besar Sunan Ampel pada Th 1.462 M Sunan Giri melakukan pernikahan 2 sekaligus dalam sehari :
A). Menikah dengan Dewi Murtosiyah ( putri sunan Ampel) Mempunyai Anak ;
Nyai Gede Kukusan, Sunan Dalem,Sunan Tegal Wangi,Nyai Gede Selo luhur,Sunan kilen,Sunan Kidul,Nyai Gede Sawon, Sunan Wruju.
B). Menikah dengan Dewi Wardah ( Putri Sunan Bungkul) Mempunyai Anak bernama Pangeran Pasir Batang yg terkenal dengan Raden Supeno Sejarah Giri Kedaton, Raden Paku belajar pendidikan bidang tasawuf dan pemerintahan yg diasuh dan dibimbing oleh maulana ishak( Ayahnya sendiri)

Ketika selesai pendidikannya Sunan Giri diberi segenggam tanah oleh ayahnya untuk mencari tempat sesuai Mutu Baku tanah itu guna tempat memperjuangan Syiar Agama Islam yg dikawal langsung oleh Syekh Kujo dan Syekh Grigis

Sekembalinya dari samudera Pasai, ia menemui Sunan Ampel untuk membicarakan hal ini. Kemudian Raden Paku mulai melakukan ritual penelusuran, di pegunungan di Gresik bahkan DiGunung Wurung Sunan Giri menghentikan semedinya karena Ibu Asuhnya Nyai Gede Pinatih yg bergelar Grand Lady of Gresik meninggal Dunia pada 12/13 Syawal 1478 M dimakamkan di kebungson Gresik.

Ritual berlangsung cukup lama dan Raden Paku terus berpindah dari gunung ke gunung. Hingga suatu malam bertepatan malam ke 40 hari dia melihat seberkas cahaya ketika dia sedang berdoa tengah malam di Gunung Batang. ada biar Cahaya jatuh di puncak antara Gunung Batang dan Sumber.

Esok harinya Raden Paku turun dari Gunung Batang dan membersihkan dirinya disebuah Sumur Gemuling Dan melakukan perjalanan dimana cahaya itu dilihatnya.

Sesampai diPuncak atas titik keberadaan cahaya itu kanjeng sunan Giri mencocokan Segenggam tanah dengan tanah di atas puncak itu dan ternyata sama persis yg dicarinya selama ini.

Dijuluki Sunan Giri karena mendirikan  pesantren Giri Dalam bahasa Sansekerta , gunung diterjemahkan sebagai giri.

Babad ing Gresik menyebut pesantren Giri sebagai “kerajaan Giri” dan dipimpin oleh Raden Paku, dan diangkat sebagai “Raja Pendhita” dan bergelar Prabu Satmata dengan kata lain pesantren Giri sebagai “kerajaan ulama”

Sunan Giri mempunyai nama asli Muhammad Ainul Yaqin. Di samping itu, ia mempunyai banyak julukan, yakni Joko samudero ,Raden Paku, Ainul Yakin,Sultan Abdul Faqih, dan Prabu Satmoto.

Sunan Giri Mendirikan Giri kedaton

Dalam Babad Gresik  disebutkan Raden Paku mendirikan “Kedaton Tondo Pitu “ yaitu bangunan istana bertingkat tujuh diatas sebuah bukit yang dikenal bernama “Giri Kedaton”.

Peristiwa pembangunan kedaton ini diambil dengan Candra sangkala yang berbunyi “ Sumedya Resik Ker Wulu “ yaitu menunjukkan angka tahun 1408 Saka atau 1486 Masehi, sejak itu, Raden Paku. bergelar Sunan Giri atau Rajah Bukit

Setahun berikutnya Sunan Giri, diangkat menjadi Nata (Kepala Pemerintahan ) dengan gelar Prabu Satmata, dan sebagai Pandita (Pemimpin umat islam ) dengan gelar Tetanggul Khalifatul Mukminin ditandai dengan Candra Sangkala berbunyi Trusing Luhur Dadi Hajiyang menunjukkan angka tahun 1409 Saka, 1487 Masehi yang bertepatan Hari / Tanggal :Jum’at Pon, 9 Maret 1487 M atau12 Rabbi’ul Awal  894 H .

Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gresik mengeluarkan Surat Keputusan tanggal 2 November 1991 Nomor 248 tahun 1991 tentang penetapan Hari Jadi Kota Gresik tanggal 9 Maret 1487 M dan diumumkan dalam lembaran Daerah Kabupaten Gresik. (Soekarman, 2003)

Sunan Giri Lahir di Blambangan Banyuwangi ,
pada tahun Saka Candra Sengkala “Jalmo orek werdaning ratu” (1365 Saka)atau 847 H / 1443 M, Sunan Giri Wafat : Pada tahun Saka Candra Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” (1428 Saka) Hari / Tanggal : Jum’at Legi. 24 Rabbi’ul Awal 912 H /14 Agustus 1506 M.

Masa Pemerintahan Giri Kedaton

Dengan Susunan kepemerintahan kesultanan Giri Kedaton
1.Kanjeng Sunan Giri
   ( 1487 – 1506 ) 19th

2.Kanjeng Sunan Dalem
   R.zainal Abidin/Ali sumodiro
  ( 1.505- 1.545 ) 40 th.

3.Kanjeng Sedoing Margi
  ( 1.545 – 1.548 ) 3 th

4.Kanjeng Sunan Prapen
  ( 1.548 – 1605 ) 57 th.

Anumerta Sunan Prapen, Sunan Mas Ratu Fatikhal atau Syekh maulana Fatikhal.
Sunan Prapen adalah Raja Giri yang paling besar setelah Sunan Giri dan ramalan Ratu joyoboyo dapat dilihat dalam kitab Musasar yang digubah Sunan Prapen.

5.Kanjeng Kawis Guwo
  ( 1.605 – 1.616 )

6.Panembahan Agung Giri
  ( 1.616 –  1.636 )

7 Panembahan Mas Witono/Sideng Rena ( 1.636 – 1.660)

Setiap pergantian Raja Giri ke I s/d Giri ke 7 tidak ada pertumpahan Darah / Perebutan Kekuasaan

Pemerintahan Giri Kedaton mengalami kemunduran setelah mendapat serangan Amangkurat I dan II dari kerajaan Mataram di Jawa tengah yang berkoalisi dengan VOC, dan benar-benar runtuh pada bulan April tahun 1680 Masehi, setelah itu Giri Kedaton diperintah oleh orang-orang yang bukan keturunan / dinasti giri, tetapi orang-orang atas perintah Mataram /Campur Tangan Mataram Antara lain;
8..Pangeran Puspa Ita (1660–1680)
9.pangeran wirayadi 1.680 -1703 M
10 Pangeran singonagoro ( 1.703 M -1.725 M)
11.Pangeran singosari ( 1.725 – 1.743 M)

Bahkan tertulis dikitab kitab kuno bahwa Giri kedaton adalah tempat do’a yg paling dihijabah di Gresik setelah Makkah al karoma karena kandungan tanahnya persis sama dimakkah dan menjadi pilihan kanjeng Sunan Giri,” Pungkas Mbah Mohtar.

Turut hadir juga Gus Gilang Spiritulis Gresik sekaligus Komandan Juru Kunci Makam Sunan Giri menyampaikan kepada juru kunci Giri kedaton bahwa dimanuskrip kuno “Tambak Agung ” berbunyi ,” kanjeng Sunan Giri bisa menundukan dan memperistri  Demit laut selatan jawa yg bernama Mas Ayu Nurowati atau yg terkenal dengan Julukan Golongan Kanjeng Ratu Roro kidul Mas Ayu Nurowati dilaut selatan yg otomatis Beliau telah di islamkan oleh Sunan Giri.

Khusus Peringatan Hari Jadi Kota Gresik marwah Syakralnya adalah Sowanan berziarah ke 3  tempat makam bersejarah antara lain :
1.Makam Nyai Gede Pinatih ( Ibu suson Sunan Giri ) Jl.Kh.Kholil Kebungson Gresik
2.Kompleks Makam Sunan Malik Ibrahim dan Makam Bupati Pertama Poesponegoro , Jl.Malik Ibrahim Gresik.
3.Kompleks Makam Sunan Giri dan Sunan Prapen ,kebomas Gresik.

Sowanan ini sekaligus napak tilas perjuangan para wali yg berandil besar dalam syiar Agama islam dan menciptakan kerukunan beragama serta besarnya industri dikota Gresik seperti sa’at ini yg pada nantinya akan kembali menjadi pusat perdagangan Nusantara,” Ujar Gus Gilang Ahli terawangan jitu karena Jauh Jauh Hari telah membuktikan kebenaranya hasil pilpres,Pilgub dan pilbup Gresik sangat cocok hasil terawangannya.

Dan seyogyanya Giri Kedaton juga ditetapkan sebagai titik Nol kilometer Kota Gresik yang sampai sekarang belum jelas titik 0 kilometer kota Gresik ,” Harapan Gus Gilang Adiwidya. (Fdl)

Editor : Iwan

error: Content is protected !!