Gandeng UNICEF, SD Muhammadiyah 2 GKB Ciptakan Adaptasi Siswa Era Pandemi

GRESIK – Mendatangkan UNICEF jadi salah satu pemateri dalam Masa Pengenalan Lingkungan Siswa (MPLS), Berlian School taau SD Muhammadiyah 2 GKB mengajak siswa beradaptasi dengan era online.

Ketua panitia MPLS, Wafiq Amiqoh mengatakan dikenal sebagai sekolah sehat nasional, lembaganya bekerjasama dengan UNICEF program reopening school.

Hal ini, dikatakan Wafiq sebagai upaya mempertahankan dan meningkatkan serta menjaga kesehatan mental para siswa.

“Anak harus siap beradaptasi dan bangkit jadi lebih baik meskipun kondisi darurat Covid-19 seperti saat ini,” katanya.

Kepala SD Berlian, Fauzuddin Ahmad menyatakan bahwa setiap anak mendapatkan haknya untuk berprestasi dan mengembangkan diri untuk itu bekerja sekolah bekersama dengan UNICEF.

Keseruah di hari itu dilanjutkan dengan Launching Gerakan 1.000 masker oleh Ikatan Wali Murid dengan penyerahan masker secara simbolis kepada kepala sekolah sebagai ikhtiar bersama saling menjaga.

“Kegiatan wajib setiap pagi bagi semua siswa adalah Tarjim Kids dengan gerakan surat Al Fatihah yang dipandu ustadzah kami,” tutup dia.

Sementara itu, Education Officer UNICEF Surabaya, Yuanita Marini Nagel saat mengisi materi MPLS di SD Berlian Gresik menjelaskan terdapat tujuh tantangan anak Indonesia selama masa pandemi.

Diungkapkan dia, siswa baru tidak bisa bertemu dengan teman-teman serta poses belajar tidak maksimal serta tidak mengenal teman sekelasnya.Kemudian anak-anak tidak bisa beraktivitas atau melakukan kegiatan seperti yang biasa dilakukan.

“Beberapa anak mengalami kekerasan dan tidak mendapat pertolongan, putus sekolah, dan Kesehatan mental,” katanya melalui siaran virtual.

Yuanita mengungkapkan sejumlah tantangan itu harus diselesaikan sehingga anak-anak bisa beradaptasi dengan era daring dengan bagus.

Tips pertama adalah membuat jadwal rutinitas dengan memastikan waktu online dan offline yang seimbang. Komunikasi tetap bangun relasi dengan teman, sahabat, guru, dan pihak lain yang dapat dipercaya.

“Kemudian jadwalkan dengan guru waktu untuk bercerita tentang isu di luar mata pelajaran, online yang aman, Kegiatan olahraga juga penting,” tambahnya

Diterangkan Yuanita, mengelola perasaan tidak nyaman untuk mem-booster kesehatan mental saat pandemi sangatlah diperlukan. Semua perasaan adalah normal baik sedih, kesel, bahagia, marah.

“Tetapi kita juga harus melihat kapan kita perlu bantuan? Tidak normal jika merasa satu perasaan dan berjalan berhari-hari. Maka harus didiskusikan dengan orang tua atau guru untuk mencari penyebabnya,” ungkapnya.. (Azmi)

Editor : Iwan

error: Content is protected !!