RSUD Dr. Soegiri Ceroboh dalam Memberikan Obat ke Pasien?

LAMONGAN – Obat merupakan unsur penunjang dalam sistem pelayanan kesehatan dan kedudukannya sangatlah penting dalam upaya pengobatan, karena sebagian besar intervensi medik menggunakan obat. Oleh karena itu, obat harus selalu tersedia pada saat diperlukan baik jenis dan jumlahnya serta pemberian obat harus rasional.

Namun kenyataan di lapangan ternyata masih banyak ditemukan kecerobohan oknum-oknum pihak Rumah Sakit yang tidak bertanggungjawab yang bisa membahayakan kesehatan pasien. Salah satunya yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soegiri, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Pasalnya oknum petugas Farmasi Diduga salah memberikan obat kepada pasien penderita HIV dengan obat Pasien Darah tinggi.

Bukan hanya itu, ironisnya lagi oknum Farmasi RSUD. Dr. Soegiri Lamongan juga Diduga memberikan obat HIV yang sudah habis masa berlakunya hingga 3 bulan (Kadaluwarsa) kepada pasien.

Menurut salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya, bahwa terkait keluhan-keluhan pasien memang dari dulu sering kali dianggap angin lalu, terbukti pada bulan April 2020, pernah ada pasien yang berinisial (A) mendapatkan obat yang habis masa berlakunya (kadaluwarsa) lebih dari 3 bulan. Dilanjut lagi di tahun yang sama 2020, kekeliruan obat yang seharusnya diberikan kepada pasien Darah Tinggi tetapi diberikan ke pasien HIV.

“Selanjutnya yang terakhir bahkan ada pasien HIV yang seharusnya mendapat obat Duviral dan Neverapin, tapi mendapat obat Neverapin dua-duanya dengan alasan karena sistem komputer eror. Sepertinya keluhan  pasien-pasien ini dianggap hal yang remeh, padahal butuh keseriusan untuk ditangani,” ungkapnya. Rabu (18/08/21).

Sumber berharap, kalo bisa untuk pasien bisa dibuatkan kartu berobat, dan itu mungkin hal yang mudah, dan saya kira anggaran yang kecil setidaknya bisa mengatasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti komputer eror atau terjadi musibah lainya.

Menanggapi hal itu, Kasubag Hukum Organsiasi Pemasaran RSUD Dr. Soegiri, Budi Wignyo Siswoyo, ketika dikonfirmasi awak media ini melalui sambungan WhatsApp mengatakan, bahwa terkait masalah itu silahkan tanya ke Bagian Poli HIV.

“Monggo tanya ke Pak Suwito, dia selaku PJ Poli HIV, bilang aja tadi sudah acc ke saya,” ujarnya.

Sementara dalam kesempatan berbeda, PJ Poli HIV, Suwito, ketika dikonfirmasi terkait kesalahan dalam memberikan obat yang seharusnya diberikan kepada pasien darah tinggi tetapi diberikan ke pasien HIV, serta Dugaan memberikan obat yang sudah habis masa berlakunya (kadaluwarsa) lebih dari 3 bulan kepada pasien, Suwito berkilah bahwa terkait masalah itu sudah klir, dan sudah ada pihak LSM resmi yang menangani.

“Pasien atas nama siapa.? Saya juga mintak maaf tidak memberikan info soalnya pasien juga butuh kerahasiaan. Masalahnya di atas sudah klir dan sudah ada pihak LSM resmi yang menangani,” kilahnya.

Disinggung terkait efek samping/keselamatan pasien, imbas dari kecerobohan pihaknya dalam memberikan obat yang salah, serta Diduga memberikan obat yang sudah habis masa berlaku hingga 3 bulan kepada pasien yang berinisial (A). Namun Suwito tidak bisa menjelaskan.

“Mohon maaf Saya tidak bisa menjelaskan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Direktur RSUD. Dr. Soegiri, dr. Moh Chaidir Annas, belum bisa dikonfirmasi atas kecerobohan pihaknya dalam memberikan obat kepada pasien dan Dugaan memberikan obat yang sudah habis masa berlakunya hingga 3 bulan.

(As)

Editor : Eko As

error: Content is protected !!